Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Desember 2011

Harapan yang Datang dan Pergi

Ketika ku terdiam atau terlelap dalam mati yg singkat,wajahku tergambar dalam warna hitam di kelopakku begitu jelas memancarkan kesepian abadi, kesedihan yg menyakitkan. Bagai embun pagi yg terjatuh dari daun yg melengkung tak peduli. Kepedihan memberiku kecantikan yg bercahaya,dgan getaran mematikan hatiku. Tetapi pada waktu tertentu aku melihat cahaya sesaat, seperti kilatan petir di malam hati. Menciutkan nyali. Namun binar matanya sekilas harapan. Aku tlah memasrahkan diri ku kehilangan,meski pun sejak pertmuan kita,sekali lagi harapan menguat kembali. Takdir mengguncang dan mendorongku kesana kemari, bagai sampah dimainkan ombak. Kemudian seperti seorang pemimpi yg terbangun,wajahku berubah secerah matahari, terhibur karna keindahan dari kenangan singkat akan wajah pujaan hati,dan kemudian aku melanjutkan hidupku. Aku bergerak dari jam ke  jam,dari hati ke hati,menenggelamkan diriku dalam segala aktifitas manusia yg bernyawa.

Menentang Takdir

Takdirku mengharuskanku menyerah. Garis tanganku brkata aku tak bisa meraihnya. Seiring waktu cinta bisa memudar,tetapi tidak pernah hilang. Cinta akn tetap brsamaku spt rasa lapar org2 mskin. Syangnya lapar itu tlah memakan ususku,,. Dewa kematian tlah membayang2i mereka, merebut kehidupan yg sebenarnya masih mereka miliki. Bgtu pula cintaku, walau ku tau ini hny sia" ku tak kan berhenti mencintaimu. Mskipun tangan takdir menamparku keras2... Aku peduli, tapi tak peduli. Apa gunanya peduli dan tidak jika itu tak merubah kenyataan yg tertulis di kitabNya. Cinta ini milik hatiku, dan Hatiku milikNya! Dia memberi kekuatan besar untuk mencintaimu, dan aku yakin ada rencana dibaliknya...

Hatiku Ternoda Dunia

Pada saat ini aku tidak bisa lagi melakukan apa yang ingin aku lakukan...
Jiwaku seakan telanjang. Aku tak bisa mengingat ayat-ayat Al Quran atau mengingat artinya iman. Sepertinya para setan/iblis terkutuk itu mulai menggerogoti imanku...
ku bacakan Ayat Kursi berulang kali untuk mengusir para setan pengusik hati, beberapa putaran jam berlalu.
Kemudian aku sadar, hal itu tak berpengaruh karena hatiku sendirilah yang mengurus dan memberi makan sang setan. Aku pura-pura tak tahu dan tak ingin tahu bahwa mereka telah bersahabat...
Ku tak bisa menjerit, bermunajat,, karna mulutku telah terbungkam oleh tangan-tangan setan...
Hatiku tak bisa lagi merasakan nikmatnya iman, karena iblis telah memenuhinya dgn dosa-dosa...
keningku tak lagi dapat menyatu dgn sajadah, karena di dalamnya, di pikiranku telah tertanam pikiran-pikiran kotor...
tak ada yang bisa menolongku kecuali kemurahan hatiNya...

Bintang

Malam ini langit berawan...
Bulan bersembunyi di balik gumpalan awan rendah, bintang-bintang tampak pudar dan jauh, seolah-olah mereka telah melepaskan tanggung jawab atas keterlibatan mereka terhadap nasibku...
Andai saja bintang-bintang itu bisa mendekat, menggerakkan bumi dengantenaga mereka membelokkan nasibku agar menjadi lebih baik...
Itu adalah sebuah harapan kosong, apakah bintang-bintang itu benar-benar peduli? Bisakah mereka melihat kekuatan hatiku yang berusaha berlari menjauh dari datangnya cahaya fajar yang akan semakin menuakan wajahku, mengikis waktu bernafasku...
Aku melihat angkasa begitu dekat,bagai melihat sebentang tanah di hadapanku.
Dimana bintangku berada?
Di sana, lebih jauh daripada bintang yang terjauh. Cahayanya menyinariku, mengedipkan bahwa ada kejutan untukku.
Nasib baik di pihakku.
Tetapi kemudian, secara menakutkan karena tidak ada angin, bahkan tidak sedikitpun angin sepoi bertiup, segumpal awan menghalangi bintang itu dariku.
Mungkin aku hanya boleh menatap bintang tersebut, tak boleh mengharap bintang itu kumiliki.

Senja

Senja datang begitu cepat, tanpa sayap-sayap angin sejuk yang membelai indra peraba dengan kelemahlembutannya, tetapi hawa panas dan berdebu bagai mengusir sang angin dengan tarian anggun mereka, memudarkan cahaya matahari menjadi lapisan kuning keruh yang menggantung di atas bumi. Memudarkan senyum pada jiwa-jiwa yang kehilangan nyawa hingga hanya memiliki mata yang penuh dengan doa untuk mengungkapkan seluruh munajat mereka, tentang cinta dan lapar... mereka tak lagi dapat merintih sepelan bisikan angin karena mulut mereka terkunci oleh pikiran mereka sendiri. “Aku memilih mati daripada hidup seperti ini”.